News

Mengurangi Angka Perkawinan Anak, Kehamilan Remaja dan Sunat Perempuan di Kabupaten Sukabumi

Mengurangi Angka Perkawinan Anak, Kehamilan Remaja dan Sunat Perempuan di Kabupaten Sukabumi

10/04/2017

Sukabumi, 10 April 2017- Rutgers WPF Indonesia, Plan International, dan Aliansi Remaja
Independen yang tergabung dalam satu aliansi meluncurkan program “Yes I Do” bersama
dengan pemerintah Kabupaten Sukabumi di Pendopo kantor Bupati. Wakil Bupati Sukabumi
Drs. H. Adjo Sardjono, M.M. meresmikan program “Yes I Do” dengan menekankan
pentingnya sinergi antara pemerintah dan aliansi lembaga nonpemerintah untuk mengurangi
angka perkawinan anak, kehamilan remaja, dan sunat perempuan di Sukabumi. Istri Bupati
Sukabumi, Yani Marwan Hamami juga menyatakan bahwa Sukabumi sebagai Kabupaten
Layak Anak mendukung program “Yes I Do” melalui koordinasi dan kolaborasi yang kuat
dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah terkait di Kabupaten Sukabumi.

Program “Yes I Do” akan dijalankan selama 5 tahun dengan menyasar pada remaja
perempuan usia 10-18 tahun untuk mencegah dan melindungi mereka dari perkawinan anak,
kehamilan remaja dan sunat perempuan,. Program ini dilaksanakan di 12 desa di Kabupaten
Sukabumi, Lombok Barat dan Rembang. “Yes I Do” akan mengembangkan dan
mengimplementasikan model pencegahan perkawinan anak, kehamilan remaja dan sunat
perempuan berbasis komunitas. Diharapkan model ini bisa diadaptasi dan diperluas oleh
Pemerintah Indonesia secara nasional melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak melalui program Kota/ Kabupaten Layak Anak.

Merujuk pada studi baseline Aliansi “Yes I Do” pada 2016 di Sukabumi, sebanyak 20,2%
responden perempuan usia 15-24 tahun menikah di bawah 17 tahun. Akibat dari perkawinan
anak tersebut, 33,3% responden perempuan putus sekolah. Perkawinan anak juga dipicu
oleh kehamilan remaja, 42,1% responden perempuan menikah di bawah 17 tahun karena
kehamilan.

Dalam sambutannya, Ibu Yani Marwan Hamami, mengungkapkan “Perempuan harus
berdaya untuk mengatakan tidak terhadap hal negatif dan pemaksaan dalam relasi mereka.
Perempuan harus diberdayakan agar mampu membuat keputusan.”

Dengan diimplementasikannya program “Yes I Do”, diharapkan angka perkawinan anak,
kehamilan remaja, dan sunat perempuan di Sukabumi dapat diturunkan sehingga dapat
berdampak meningkatkan kesejahteraan masyarat secara keseluruhan.