Kapasitas

Membangun Kapasitas Manusia dan Kelembagaan untuk Cita-cita Bersama

Bagaimana Rutgers WPF Indonesia dapat mewujudkan cita-cita terciptanya kualitas kehidupan manusia Indonesia yang lebih baik melalui pemenuhan hak atas kesehatan seksual dan reproduksi? Salah satunya adalah dengan pembangunan kapasitas melalui program-program yang menyentuh para guru dan pendidik, orang tua murid, pegawai-pegawai pemerintah, petugas pusat pelayanan kesehatan, pengurus organisasi swadaya masyarakat. Kesemuanya itu akan bermuara ke ultimate beneficiaries atau penerima manfaat akhir seperti anak, remaja, pemuda, pasangan suami istri termasuk mereka yang termajinalkan karena difabel, keberagaman seksualitas, berada di rumah tahanan atau hidup di lingkungan (hidup dijalanan) yang penuh bahaya.

Pembangunan kapasitas atau capacity building tidak hanya membuat para guru, pendidik, orang tua, pegawai pemerintah, pelayan kesehatan dan pengurus organisasi terkait menjadi lebih tahu, lebih pintar, lebih terampil dalam bidang kesehatan seksual dan reproduksi yang menjadi hak masyarakat, tetapi juga meningkatkan kemampuan mereka memanfaatkan jaringan kerjasama yang terbentuk, mendapatkan sumberdaya yang dibutuhkan dalam bentuk anggaran pemerintah dan tenaga-tenaga ahli kesehatan, mendapatkan peningkatan dalam wewenang dan tanggung jawab, dan menjadi lebih percaya diri menjadi agen perubahan dan melanjutkan program kepada lebih banyak penerima manfaat dan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders).

Membangun kapasitas berdasarkan riset

Untuk memastikan keberhasilan proses pembangunan kapasitas, tahap awal proses adalah disiapkannya suatu rancangan kegiatan berdasarkan studi (riset) kondisi kesenjangan yang ada pada calon-calon penerima program atau yang akan terlibat langsung atau tidak langsung terhadap program. Kesenjangan atau gap dalam hal pengetahuan, semangat, perilaku, akses kerjasama, sumberdaya tenaga ahli, sumber daya keuangan, tingkat partisipasi stakeholders, dan kondisi para penerima manfaat akhir. Selanjutnya Rutgers WPF Indonesia juga mengukur kekuatan atau kemampuan internal organisasi untuk menetapkan seberapa jauh intervensi yang dapat dilakukan, seberapa lama dan seberapa luas kawasan yang akan dicakup. Dengan demikian dihasilkan suatu desain proses dan program pembangunan kapasitas yang tidak hanya efektif (berhasil mengisi gap yang ada) tetapi juga efisien karena memanfaatkan sumberdaya Rutgers WPF Indonesia dengan sebaik-baiknya (optimal).

Berikut ini adalah contoh-contoh kegiatan peningkatan kapasitas yang telah dan sedang dilakukan Rutgers WPF Indonesia:

  • Pembentukan jaringan kerjasama organisasi-organisasi yang peduli terhadap HKSR dalam Aliansi Satu Visi.
  • Melalui advokasi mendapatkan restu dari otoritas pemerintah, pengelola sekolah dan pihak-pihak terkait untuk menjalahkan program di lokasi yang ditentukan
  • Melaksanakan program-program pelatihan bagi guru-guru, pendidik, orang tua dan pihak-pihak yang berkepentingan termasuk pegawai pemerintah dan pelayan kesehatan.
  • Melaksanakan program-program pelatihan kepada para jurnalis sebagai ujung tombak publikasi, advokasi dan desiminasi program kepada masyarakat dan pemerintah.
  • Meningkatkan kemampuan para konselor untuk melayani di pusat-pusat kesehatan.
  • Melakukan pelatihan untuk calon-calon pelatih (Training of Trainers).
  • Mendorong terbentuknya forum-forum sebagai jaringan kerjasama diantara aktivis.
  • Mendorong terwujudnya partisipasi remaja sebagai agent4change; agen perubahan di lingkungannya.
  • Meningkatkan kemampuan dan kepedulian para suami dalam menghapuskan kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan berbasis seksualitas dan gender.
  • Membina dan melibatkan organisasi-organisasi lokal yang peduli sebagai pelaksana di lokasi-lokasi masyarakat yang menjadi target perbaikan.

Dan akan masih banyak lagi pembangunan kapasitas yang bentuknya mengalami pembaharuan, inovasi, kreasi menyusuaikan dengan umpan balik (feedback) dari hasil evaluasi terhadap efektivitas program yang sudah dilaksanakan.