Partisipasi Pemuda Penuh Makna

Partisipasi Orang Muda: Sangat Penting dan Bukan Sekadar Retorika

Menolong para remaja menolong diri mereka sendiri. Ungkapan ini diadopsi dari suatu metode pembangunan masyarakat yang terkenal: Help people to (make the people able to) help themselves. Sementara remaja pada awalnya adalah para penerima manfaat (beneficiaries) dari program-program yang diselenggarakan Rutgers WPF Indonesia bersama organisasi mitra di lapangan. Perwakilan dari mereka juga di tahapan persiapan program, telah dilibatkan dalam menyesuaikan materi-materi program kepada spesifik kelompok remaja yang dituju. Dengan bekal yang diperoleh dari mengikuti program, kegiatan demi kegiatan, remaja dianggap dapat melakukan empat hal ini:

  1. Berbagi informasi dan pengetahuan kepada teman sebaya, baik secara individual maupun kolektif dalam kelompok.
  2. Konsultasi dengan memberikan jawaban-jawaban terkait kondisi komunitasnya.
  3. Mengambil keputusan dan pilihan terhadap isu-isu yang berkembang.
  4. Inisiasi aksi, atau memberikan teladan atau pengaruh baik kepada lingkungannya.

Ini adalah bentuk partisipasi remaja setelah yang bersangkutan mendapatkan kesempatan untuk terlibat penuh dan bermakna. Berikut adalah beberapa contohnya.

dance4life

Dalam kegiatan atau program dance4life, para remaja yang setuju untuk melakukan empat hal di atas disebut sebagai agent4change (agen untuk perubahan) di lingkungannya.

Penelitian tentang remaja dari, oleh dan untuk remaja

Rutgers WPF Indonesia bersama organisasi mitra di lapangan memberikan kesempatan kepada remaja yang sudah terlatih berpartisipasi untuk turut memberdayakan remaja marjinal: karena berada dalam lembaga pemasyarakatan anak, ragam seksualitas, hidup di jalanan atau berkondisi difabel. Dalam program ASK (Akses, Servis dan Ketahui), remaja tersebut berpartisipasi melakukan studi untuk dapat membangun program pelayanan HKSR (Hak dan Kesehatan Seksual dan Reproduksi) yang lebih baik. Studi yang dinamakan operational research (OR), yang mencakup kegiatan:    

  1. Mapping Media, mendapatkan data dari organisasi mitra ASK terkait strategi electronic/mobile (e/m) yang sudah dikembangkan dan informasi yang telah disampaikan.
  2. Riset Kualitatif, mendapatkan data dari remaja baik yang sudah mengakses maupun yang belum mengakses media yang telah dikembangkan oleh organisasi mitra ASK.
  3. Analisis Isi, mendapatkan data: konsistensi, relevansi, dan isi pesan dari media yang dikembangkan oleh organisasi mitra.

Temuan studi ini tentu saja sangat bermanfaat bagi pengembangan fasilitas media komunikasi yang dapat diakses remaja, seperti yang disampaikan oleh Vivi, seorang penggerak komunitas SeBAYA dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Timur.

“Kami, khususnya petugas outreach menjadi mengerti apa yang dibutuhkan baik oleh komunitas maupun teman-teman yang menjadi ‘pelanggan’ media sosial SeBAYA. OR menjadi media evaluasi bagi kita dalam memberikan bahan edukasi yang paling banyak diminati atau paling dibutuhkan remaja, namun belum mereka dapatkan di tempat lain. Selain sebagai sarana evaluasi bagi pengembangan media sosial, OR juga menjadi sarana untuk mengetahui sampai sejauh mana pengetahuan remaja komunitas mitra kita berkaitan dengan isu HKSR. Banyak yang bisa kita dapatkan dari pengalaman mengikuti OR”.

Konferensi nasional seksualitas remaja: IYDC

Partisipasi remaja juga ditunjukkan dalam menggelar Indonesian Youth Diversity Celebration pada tahun 2014 di Provinsi Lampung. Para remaja merayakan keberagaman di antara mereka dalam pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksinya. Acara ini didukung oleh Aliansi Satu Visi dan PKBI Lampung.

Berikut catatan seorang remaja peserta dari Provinsi Bali, I Nyoman Cakra Wibawa tentang kegiatan Indonesian Youth Diversity Celebration tersebut:

“Senang bertemu dengan remaja dari seluruh Indonesia dan melihat perjuangan mereka di isu HKSR. Mereka sangat menginspirasi saya! IYDC adalah salah satu acara paling keren yang pernah saya ikuti. Dari sini saya tahu bahwa semua orang dari usia berapa pun dan latar belakang apa pun dapat melakukan perubahan yang baik”

Potensi partisipasi remaja dalam program-program penyadaran Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi terlihat jelas pada kalimat terahir dari Nyoman. Partisipasi remaja disadari atau tidak memberikan nilai tambah kepada setiap individu remaja yang bersangkutan dan meningkatkan rasa memiliki (ownership) terhadap gagasan perubahan yang awalnya diusung Rutgers WPF Indonesia yang pada akhirnya menjamin keberlanjutan program (sustainability).