Penelitian

Berbasis Pada Riset – Bagaimana Kami Mewujudkan Perubahan Positif untuk Indonesia

Banyak Anak dan Perempuan yang mengalami kekerasan, Remaja yang terinfeksi HIV, mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki. Namun, seberapa banyak data yang sebenarnya terjadi di lapangan dan bisa memberikan gambaran yang paling mendekati kondisi sebenarnya? Tidak mungkin menjalankan program untuk mendorong perubahan sosial jika kita tidak mengetahui dengan lengkap kondisi yang akan diperbaiki dan perbaikan apa saja yang diperlukan. Dari mana kita akan berangkat dan ke mana tujuan kita. Di sinilah kami mengandalkan riset dengan metodologi yang kuat dan sistematis untuk menjadi dasar dalam menentukan arah perubahan sosial yang dikehendaki.

Program pembangunan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Banyak jalan ke Roma. Cara yang dapat ditempuh bisa suatu cara yang cepat, perlahan, mahal atau murah, partisipatoris atau ”pemaksaan”, mencakup satu aspek atau komprehensif berbagai aspek. Pilihan-pilihan akan dilakukan dengan membandingkan antara temuan tentang kebutuhan perbaikan dengan kemampuan internal organisasi yang ada.Kemudian akan ada proses evaluasi untuk melihat keberhasilan setiap pilihan cara terhadap perbaikan yang diharapkan. Pilihan cara akan diperbaiki untuk mendapatkan hasil perbaikan yang lebih baik.

Dengan demikian program perbaikan, dalam perancangannya, dalam pelaksanaannya dan dalam evaluasinya selalu membutuhkan masukan informasi tentang apa, siapa, dimana, mengapa dan bagaimana setiap aspek yang ada di dalam dan yang berkaitan dengan program. Ini yang disebut juga sebagai sistem pelaksanaan program. Sistem ini membutuhkan masukan informasi yang dikumpulkan secara sistematis dan efisien melalui kegiatan yang disebut riset atau penelitian.

Dalam proses program perbaikan demikian juga halnya pada program-program pembangunan yang lain, hasil dari kegiatan dirinci dalam tahapan yang diurai sebagai input, kegiatan, output, outcome dan impact. Input sebagai sumberdaya dan metode yang dipilih untuk kegiatan tertentu; kegiatan adalah apa yang dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya dan metode yang dipilih (kegiatan pelatihan, kegiatan advokasi, kegiatan pemberian bantuan benda-benda, dll); output adalah hasil awal dari kegiatan (terlaksananya acara pelatihan, diterimanya bantuan dll); outcome adalah kegiatan atau reaksi dari penerima manfaat terhadap output tersebut (meningkat pengetahuaannya dll); dan impact adalah perubahan atau perbaikan yang terjadi akibat perubahan perilaku dari para penerima manfaat terhadap kehidupan mereka.

Seluruh program yang kami rancang selalu dimulai dengan riset pendahuluan. Seperti program UFBR dan ASK dimana kami memulai dengan riset KAP (Knowledge, Attitude and Practice) remaja terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi. Di dalam program MenCare+ kami melakukan survey pendahuluan mengenai kekerasan dengan mengadopsi IMAGES yakni International Men and Gender Equality Survey untuk mengukur dan melihat peluang bagaimana melakukan program pelibatan laki-laki dalam menghapus kekerasan terhadap perempuan.

Di tengah pelaksanaan program, kami masih terus mengukur seberapa jauh perubahan yang telah terjadi melalui Outcome Measurement survey dan begitu pula di akhir program yang nantinya menjadi pembelajaran bersama pemangku kepentingan yang bekerja di bidang yang kami geluti.

Selain riset ini, kami juga melakukan riset operasional untuk mendukung pencapaian target program. Saat ini kami sedang melakukan riset terkait akses informasi HKSR remaja di Indonesia; apa saja informasi yang dibutuhkan remaja, hambatan dalam mengakses informasi, media yang diakses, hingga analisa konten media yang saat ini kami sediakan sehingga dapat diketahui bentuk informasi dan media yang relevan.

Demikian, Rutgers WPF Indonesia selalu melakukan proses riset dalam setiap tahapan kegiatan program-program yang disampaikan ke masyarakat; untuk keperluaan persiapan dan perancangan program, untuk melaksanakan atau perbaikan kegiatan dan untuk mengevaluasi keberhasilan program.